Curhatan Warga Desa Kab Blitar : Jalan Rusak Timbul Korban Hingga Jadi Kebun Pisang

Oleh:  Syaffiatu Lutfiana

Blitar yang juga dikenal dengan sebutan Kota Patria, Kota Lahar dan Kota Proklamator secara legal-formal didirikan pada tanggal 1 April 1906. Dalam perkembangannya kemudian momentum tersebut ditetapkan sebagai Hari Jadi kota Blitar. Walaupun status pemerintahannya adalah Pemerintah Kota, tidak serta-merta menjadikan mekanisme kehidupan masyarakatnya seperti yang terjadi dikota-kota besar. Memang ukurannya pun tidak mencerminkan sebuah kota yang cukup luas. Level yang dicapai kota Blitar adalah sebuah kota yang masih tergolong antara klasif ikasi kota kecil dan kota besar. Secara faktual sudah bukan kota kecil lagi, tetapi juga belum menjadi kota besar.

Blitar merupakan salah satu daerah di wilayah Propinsi Jawa Timur yang secara geografis terletak diujung selatan Jawa Timur dengan ketinggian 156 m dari permukaan air laut, pada koordinat 112° 14 – 112° 28 Bujur Timur dan 8° 2 – 8° 10 Lintang Selatan, memiliki suhu udara cukup sejuk rata-rata 24° C- 34° C karena Kota Blitar berada di kaki Gunung Kelud dan dengan jarak 160 Km arah tenggara dari Ibukota Propinsi Surabaya.
Kota Blitar merupakan wilayah terkecil kedua di Propinsi Jawa Timur setelah Kota Mojokerto.

Di Blitar banyak sekali potensi wisata yang ada, misalnya wisata pendakian Gunung Kelud, Kampung Sakura, Hutan Pinus , Candi Penataran hingga makam Proklamator yang fenomenal. Namun terlepas dari kelebihanya, Blitar ternyata menyimpan cerita yang miris terutama masalah jalan rusak yang tak habis-habis.

Banyak sekali rakyat yang mengeluh hanya karena masalah jalan, terutama jalan penghubung antar  desa-desa. Banyak rakyat yang ngedumel ngarasni podo curhat. Entah itu di warung kopi, di warung sembako, ataupun nongkrong di angkringan. Menurut beberapa  orang  terutama yang kontra dengan pemerintah menganggap pemerintah daerah itu pelit-pelit, sibuk ngurusin yang gak penting-penting. Misalnya menggelar hajatan besar-besaran, masalah jalan raya yang rusak dan berlobang, malah dibiarkan  hingga makan korban dan mirisnya lagi gak ada yang memperhatikan. Yah…walaupun sepele sih cuma jalan, tapi karena jalan rayalah  rakyat bisa menyambung hidup. 

Solusi untuk jalan rusak dan berlubang yang dilakukan selama ini adalah menambal lubang tersebut dengan aspal. Setiap dilakukan perbaikan jalan berupa penambalan lubang yang memerlukan waktu sekitar tiga sampai lima hari, jalan tersebut bisa kembali rusak hanya dalam kurun waktu satu hari apabila terjadi hujan lebat dan seringnya dilalui truk pengangkut pasir yang muatanya kelebihan. Hal seperti itu sudah sering terjadi berdasarkan pengamatan saya.

Mungkin, kalau yang di daerah Kota Blitar nggak begitu terasa. Namun, coba kalian perhatikan kalau mulai main ke daerah Blitar bagian utara. Misalnya nih, jalan yang terletak di bagian  utara Kota Blitar yang mengarah ke Desa Bangsri  yang jadi korban gundukan aspal. Jalan berlubang jadi sebuah keniscayaan. Nggak rata itu biasa, tapi ini udah kategori rusak berlubang pula.

Menurut hasil laporan warga, di sana memang sering terjadi kecelakaan lalu lintas hingga kerap kali memakan korban jiwa. Penyebabnya pun tak lain dan tak bukan adalah jalanan berlubang. Jalur ini merupakan jalur alternatif untuk ke Blitar Kota. Oleh karenanya, warga sekitar hingga truk-truk pembawa material terutama pasir kerap kali lewat jalan tersebut . Karena jalan tersebut selain penghubung antara desa dengan kota ,tapi juga sebagai penghubung antara tempat pertambangan pasir Kali Mbladak dengan kota. Permasalahan di atas masih mending, lebih parah  lagi  jalan yang terletak di bagian  utara Kota Blitar yang mengarah ke timur laut, tepatnya di Kecamatan Garum. Rata-rata jalan raya yang berada di wilayah Kecamatan Garum terutama Garum bagian utara jalannya berupa aspal batu, begitulah orang-orang menyebutnya. Dan masih banyak lagi wilayah di Daerah Kabupaten Blitar yang jalannya berupa aspal batu.

Kata warga, pemerintah daerah kurang sigap mengatasi hal ini. Ataupun anggaran untuk perbaikan jalan kurang, atau mungkin anggaran diselipin di saku seragam. Entahlah, tak tahulah, hanya berasumsi saja. Menurut pengamatan saya kalau dilihat jalan mulus hanya yang ada di dekat  instansi pemerintahan dan pusat kota saja, itupun juga tidak terlalu mulus. Sedangkan yang lain terutama  pelosok desa banyak yang mringis karena dibiarkan saja tanpa perbaikan yang layak. 

Saya pun nggak pengin sekadar menyalahkan dan menuduh pemerintah nggak becus dalam menangani hal semacam ini, tetapi saya pribadi sebagai orang yang nggak begitu paham soal konstruksi jalan lebih mempertanyakan apakah ada solusi yang lebih efisien dibandingkan harus menambal jalan berlubang secara terus menerus. Bahkan ada pula jalan yang sudah ber aspal batu dibiarkan bertahun-tahun tanpa perbaikan. Sebab, kebanyakan orang merasakan hal yang sama terkait permasalahan ini dan memang permasalahan serupa juga terjadi di jalan lain seperti ringroad. Hal serupa tentunya juga terjadi di banyak wilayah selain di daerah tempat saya tinggal. Saya juga yakin bahwa banyak orang merasakan bahwa ada jalan yang seringkali berlubang walaupun belum lama diperbaiki.  

Ada suatu cerita  lucu sekaligus pilu , yaitu cerita yang berasal dari Desa Karangrejo. Perlu diketahui desa Karangrejo adalah desa yang letaknya paling utara di Kecamatan Garum Kabupaten Blitar Jawa Timur. Berjarak 15 KM dari kawah Gunung Kelud. Karena dekat dengan pengunungan dan dekat dengan pertambangan pasir, Desa Karangrejo sering dilewati truk pasir yang bermuatan berkubik-kubik yang datang silih berganti, berlalu lalang baik truk yang berasal dari daerah Blitar sendiri hingga luar kota. Jadi tak heran jalannya sering rusak, berlubang-lubang. Walaupun jalannya ada yang dicor pakai semen lalu setelah dicor dilapisi aspal, tapi  tetap saja tak berubah. Salah satu curhatan warga sekitar, dulu karena lurahnya pelit, jadi yang dicor semen itu hanya sebatas jalan yang ada di sekitar rumahnya, yang lain dibiarkan begitu saja, hanya tambal sulam tak ada habisnya. 

Pernah suatu ketika, jalan raya di desa tersebut  rusak parah, padahal jalan utama desa dan tak kunjung diperbaiki. Hingga akhirnya warga turun tangan, demo beberapa kali tak pernah digubris. Warga juga kerap kali mengajukan surat untuk perbaikan jalan ke pemerintah namun tak kunjung di tanggapi. Akhirnya dengan kepasrahan dan kemarahanya, warga desa Karangrejo bergotong- royong menyulap jalan penghubung antar desa menjadi sebuah kebun pisang. Di setiap lubang jalan, tak perduli lubang selebar jalan disitulah pohon pisang ditanam, dengan batu-batu besar sebagai penyangganya.

Reaksi warga desa tidak lebih hanyalah suatu protes kepada pemerintah, terutama pemerintah desa dan para penambang pasir yang hanya mengeruk keuntungan tanpa memperhatikan kesejahteraan masyarakat sekitar.

Menurut salah satu penuturan warga, pernah suatu waktu kebetulan saat itu bantuan BLT sedang cair dan  dibagikan kepada para lansia. Ada salah satu oknum perangkat desa berkata “Niki jenengan sedoyo angsal bantuan BLT, nggih mpun ngantos ngresulo lek margine rusak, masalah e artone damel ndandani margi diparingne jenengan sedoyo”. Begitulah kira-kira, harusnya seorang oknum perangkat desa tak berkata demikian kepada warganya. Namun tak dapat dipungkiri karena keadaanya memang demikian.

Ada suatu cerita lagi yaitu menyangkut masalah jalan penghubung antara desa Karangrejo dengan desa X. Jalanya sangat istimewa mringis dengan aspal batu tajam-tajam berada ditengah sawah pula. Bagi pengendara yang melintas dengan tak hati-hati, meleset sedikit saja bisa jadi nyawa taruhanya. Kata orang-orang sekitar sebenarnya jalan tersebut merupakan jalan yang sudah memasuki daerah otonom desa X, tapi sudah lama tak kunjung diperbaiki karena masalah kecemburuan sosial. Ada salah satu warga desa mendengar percakapan salah satu oknum perangkat desa X . Kira-kira seperti ini, “ Elehh, dalan lor kono rasah didandani, ngko kepenaken wong Karangrejo lek neng pasar….” Kalau dilihat apakah pantas seorang oknum perangkat desa yang harusnya melayani masyarakat dengan setulus hati malah berkata demikian. Sebuah kata-kata yang menyakiti hati warganya. Ingat lidah itu lebih tajam dari pada pedang. Itulah kira-kira beberapa kisah curhatan para warga Kab Blitar mengenai  jalan rusak yang ada di daerah blitar yang pantas disebut sebagai jalur downhill. Saya harap, setidaknya jalanan tersebut segera mendapatkan perhatian dan diperbaiki. Toh, kemajuan daerah biasanya ditentukan oleh kondisi jalannya, bukan? Apalagi blitar merupakan kabupaten yang terkenal dengan potensi wisatanya dan Bhumi Bung Karnonya. Tentu para wisatawan dan peziarah akan lebih aman kalau jalannya pun dibikin aman, kan.

Karya Mahasiswa PBI UNU Blitar angkatan 2019

Nama : Syaffiatu Lutfiana
Kelas : 6B PBI
NIM : 1988201005
UAS : Jurnalistik

Leave a Reply

Your email address will not be published.