Jangan Ragu Akan Masa Depanmu

Oleh: Nur Hidayah Mulya Ningrum 

Menanggapi perkembangan di era saat ini yang sudah serba digital seharusnya kita mampu menjadi pemuda yang berfikir realistis, karena pada kenyataannya setiap diri manusia itu memiliki kemampuan dan kelebihan masing-masing, sedangkan banyak orang yang menilai kualitas seseorang hanya melalui apa yang dia lihat saja. Bahkan dalam hal pendidikan juga tidak bisa menilai kualitas dari segi perorangan saja, pendidikan dimanapun tempatnya jika dia yang bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu maka dia pasti akan mendapatkan apa yang dari awal dicarinya.

Menjadi anak muda yang tangguh adalah kebanggaan setiap orang dengan harapan masa depan yang cerah dan berwawasan luas, tegas dalam bertindak sehingga dalam menentukan jalan hidupnya pun tak ada lagi keraguan sedikitpun. Akan lebih baik jika sebagai anak muda memiliki jiwa yang kuat dalam segala hal yang ditempuh kedepannya, tidak takut untuk gagal dan tidak takut untuk memulai. Kebanyakan anak muda zaman sekarang ini menempuh pendidikan bukan karena kebutuhannya sebagai mahasiswa yang ingin sukses dengan tujuannya, kebanyakan dari mereka yang berasal dari keluarga mampu (ekonomi cukup) hanya mengandalkan gengsi untuk memilih jenjang pendidikan yang akan diambil. Padahal tanpa mereka sadari pun banyak diluar sana yang ingin mengambil pendidikan lanjut tanpa memikirkan biaya yang akan dikeluarkan tiap semester, karena bagi mereka yang berasal dari kalangan menengah kebawah memilih bekerja agar tidak menjadi beban orang tua.

Beberapa orang terkadang tidak sadar bahwa disekeliling mereka ada banyak orang yang sulit untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sementara mereka masih selalu ingin mementingkan keinginan daripada kebutuhan yang diperlukan. Maka dari itu, ada baiknya untuk mengubah pola pikir untuk lebih mementingkan kebutuhan daripada keinginan yang hanya bersifat sementara. Selain itu, mencari teman yang dapat menerima dalam kondisi apapun sehingga kita tidak merasa terbebani juga bisa menjadi salah satu jalan keluar karena lingkungan pertemanan merupakan salah satu pemicu yang cukup kuat terkait permasalahan gaya hidup konsumtif untuk mementingkan gengsi semata. 

Kita harus bisa memilih mana lingkungan yang baik untuk kita dan harus selalu berkaca atau intropeksi diri agar dapat bergaya sesuai dengan kebutuhan dan tidak terlalu berlebihan hanya karena ingin diterima di lingkungan kita. Jika kita terus memelihara sifat konsumtif tanpa memikirkan materi yang kita miliki, hal tersebut akan terus berkelanjutan akibat ambisi dan rasa tidak puas yang ada dalam diri. Sebagai remaja yang tentunya berpendidikan, kita harus mengerti batasan diri sendiri dan juga harus mampu menempatkan diri di lingkungan yang baik. Perilaku konsumtif akan mudah untuk dihindari jika kita berada di lingkungan yang positif. 

Jadi, ada baiknya kita untuk memulai hidup sesuai dengan kebutuhan, bukan keinginan tanpa berperilaku konsumtif serta mementingkan gengsi karena jika kita terus mementingkan gengsi maka tidak akan ada habisnya. Daripada mementingkan gengsi dan gaya hidup, akan lebih baik jika uang tersebut digunakan untuk hal yang lebih bermanfaat, krena tidak semua orang memiliki nasib yang sama dengan kita apalagi ketika kita sudah dihadapkan oleh pilihan untuk menempuh pendidikan lanjut  (Kuliah) maka kenapa tidak dimanfaatkan dengan baik selagi kita mampu dan ditambah lagi mendapat dukungan dari keluarga selagi itu posisif, siapa tahu ini adalah jalan terbukanya pintu rezeki dan memperoleh kehidupan yang lebih baik kedepannya.

Karya Mahasiswa PBI UNU Blitar angkatan 2019

Nama : Nur Hidayah Mulya Ningrum

Kelas : 6B PBI

NIM : 1988201029

UAS : Jurnalistik

Leave a Reply

Your email address will not be published.