Pacitan Membawa Misteri

Oleh: Alfina Ummul Fitriani

Sebuah perjalanan sangatlah indah, apalagi diiringi canda tawa bersama para teman. Berbekal doa dan restu kedua orang tua, aku memulai perjalananku dari kota Blitar ke
kota Pacitan. Aku adalah Nevia anak kuliahan yang baru saja memasuki semester
empat dan ini adalah kisahku bersama teman-teman sekuliahku, kisah yang penuh
dengan berbagai rintangan aneh dan tentunya sangat menyenangkan bahkan membuat
logika ku tak mampu mencernanya.

Perjalanan kami dimulai disini, ketika telah memasuki libur perkuliahan. Aku dan
sepuluh temanku berencana Healing ke kota Pacitan dengan menaiki motor. Saat itu
cewek nya ada tiga orang yaitu aku, Rita dan Sasa kemudian delapan teman cowokku
yaitu Mas Sugi, disini mas Sugi adalah ketua dan penanggung jawab dalam healing kali
ini karena dia adalah yang paling tua dan sudah berkeluarga, kemudian ada
Rico,Bagas,Aldi, Dika, Risky, Dion, dan Jodi. Setelah semua disetujui keesokan harinya
kami kumpul dirumah mas Sugi. Sebelum berangkat kami sarapan dulu dan tak lupa
berdoa agar semua berjalan dengan lancar tanpa ada rintangan dan pulang dengan
selamat.

Rita ” Yuk buat Vidio keberangkatan kita dulu”

dengan saling bersemangat kami kompak menumpukkan tangan dan serentak
mengucapkan “Bismillah lancar”.

Hari Sabtu pukul 11.00 siang kami memulai perjalanan dengan penuh semangat dan
riang gembira namun diperjalanan tiba-tiba suasana yang awalnya terang kini berubah
menjadi mendung dan akhirnya hujan mengguyur kami diperjalanan. Sebelum hujan
semakin deras kami berteduh di pos kampling yang berada di kecamatan Srengat.

Setelah sekian lama menunggu dan hujan pun tak kunjung reda juga, akhirnya kami
memutuskan melanjutkan perjalanan dengan memakai mantel. Kami senang,ada yang
sambil nyanyi- nyanyi gak jelas, ada juga yang sambil ngemil dan kami sangat menikmati perjalanan, namun ketika kami sudah memasuki kota Tulungagung tiba -tiba kami kehilangan jejak Sasa dan Dion.

Jodi : ” Vi…. Sasa dan Dion kemana kok gak kelihatan” dengan mengendari motornya
Jodi mengiringi motorku dan Aldi kemudian menanyakan keberadaannya Sasa dan Dion
yang tiba-tiba kehilangan jejak.

Aldi: ” Gak tau tuuh…coba tak putar balik siapa tau kenapa-kenapa?”

Jodi : ” Yaudah kalian yang kesana, aku dan lainnya tunggu diwarung itu ya”

Akhirnya aku yang dibonceng Aldi memutuskan putar balik dan mengecek keadaan
Sasa dan Dion. Aku melihat kekanan dan kekiri namun tetap belum kelihatan batang
hidungnya. Aku dan Aldi tak pantang menyerah mencarinya hingga rasa lelahpun
mengantarkan kita menemukan Sasa dan Dion.

Nevia : ” itu Sasa kan…. kenapa tuuh kok motornya gak dinaikin”

Aldi : ” waah iya tuuh” Nevia : ” ada apa sa… dicariin dari tadi kok, huffft”

Sasa :” Motornya bocor Vi… duuh dari tadi cari bengkel gak dapet-dapet niiih ”

Dion : ” iya niih…coba deh kalian cari bengkel,siapa tau dapet….Capek niih kita”

Aldi :” Syiiap dahh…lain kali kalo ada apa-apa tuuh kabar-kabar bro…kita bingung niih”

Dion : ” Maap dahh kita panik soalnya, jadi gak sempet”

Nevia :” Yaudah kita cari bengkel dulu nanti kukabari dehh”

Aku dan Aldi muter-muter mencari bengkel dan tibalah kita dibengkel yang lumayan
cukup jauh dari keberadaan kita tadi, kira – kira 200 meter, tak lupa aku menelphone
Sasa dan segera mengabarinya bahwa kita sudah menemukan bengkelnya. Oh iya aku
lupa mengabari yang lainnya dan segeralah aku mengabari yang lainnya digrub bahwa
Sasa dan Dion motornya bocor. Setelah motornya Sasa dan Dion selesai ditambal kami akhirnya menuju warung tempat Jodi dan lainnya kumpul.

Mas Sugi : ” Weeh gimana sa… motor aman?”

Sasa : “Aman bos…siiap lanjut niih”

Mas Sugi : “Bentar lah istirahat dulu aja, ngopi atau makan-makan dulu lah”

Sasa : ” Siiap dah kita makan dulu aja, laper juga gue..hehehe”

Setelah semua sudah selesai kami segera melanjutkan perjalanan namun sebelum itu
kami mencari masjid untuk ibadah sholat dhuhur.

Sholat sudah ,isi perutpun juga sudah dan akhirnya kami memulai kembali perjalanan
dengan mengucapkan bismillah. Setelah sekian lama bergelut dengan jalanan akhirnya
kami sampailah dikota Trenggalek namun anehnya motor mas Sugi tiba- tiba mogok di
perbukitan arah Trenggalek ke Pacitan dan mogoknya itu pas dijalan tikungan. Kami
panik karena motornya tak kunjung bisa distarter.

Jodi : “Gimana nihh”

Mas Sugi : ” Sabar lah,Lo jangan bikin panik”

Rita : ” la iya, mari kita doa dulu biar dipermudah” ( Rita yang mencoba menenangkan
namun malah diejek sama Jodi).

Jodi : ” Dahh doa dari tadi tapi tetep gak bisa,lelah niih gue”( Jodi yang mulai menyerah
akhirnya memutuskan untuk duduk dipinggir jalan dan mulai dengan tingkah konyolnya).

Jodi : ” Sa…. Tik tok an aja yuk gabut niih ”

Sasa : ” Haaa… tik tok an dasar Lo gak tau tempat ”

Jodi : ” Liatlahh Sugi,Aldi dan Dika lagi berusaha memperbaiki motor, Nevia dan Rita
asik foto – foto, Dion asik baca novel, Rico dan Bagas asik ngrumpi la kita ngapain ”

Sasa : ” Dahlahh kita berdoa aja, hehehe”

Jodi : ” Ikutan nevia dan Rita foto – foto ajalah, gak seru Lo”

Tanpa basa basi Jodi menghampiri Rita dan nevia yang lagi asik foto – foto dan setelah
sekian lama menunggu akhirnya motornya mas Sugi bisa hidup kembali, disitulah
semua aktifitas kejenuhan mulai tumbuh menjadi bahagia. Semua senang dan akhirnya
perjalanan kami dimulai kembali.

Pukul 22.00 kami sampailah dikota Pacitan,langsung saja kami menyewa penginapan
dan akhirnya istirahat.

Matahari telah terbit, sinarnya yang terang dan suasana pagi yang indah membuatku
semangat menuju pantai klayar langsung saja setelah selesai sholat subuh,mandi dan
sarapan.

Pukul 08.00 kami bersiap siap segera berangkat menuju pantai klayar. Awal perjalanan
kami sangatlah lancar tanpa ada halangan apapun namun hal aneh pun muncul kembali motor mas Sugi tiba – tiba mogok disaat arah menuju jalan turun kerah pantai. Saat itu suasana sangatlah panas dan motor mas Sugi diharuskan dituntun menuju tempat yang aman agar tidak terjadi tabrakan.

Mencoba dan terus mencoba menghidupkan motornya namun hasil selalu gagal, hingga Risky pun turun tangan. Risky itu adalah anak indigo dia memang terkenal cowok yang aneh dan misterius, banyak teman – temannya yang tidak terlalu mempercayai ucapan
mistisnya.

Risky : “Sepertinya ada yang aneh pada motormu gi…?”

Mas Sugi : ” Aneh gimana? “

Risky : “Dari sepanjang perjalanan motormu kuperhatikan memiliki aura negatif”

Mas Sugi : ” Gak usah aneh – aneh Lo ky”

Risky mencoba menstater dan mengecek mensinnya tapi tak kunjung menyala hingga
Risky pun tiba – tiba kerasukan, cowok – cowok mencoba menenangkannya, membaca
bismillah,doa – doa dan lainnya, namun tak kunjung keluar yang merasukinya dan
akhirnya pun Risky sadar dengan sendirinya.

Nevia : “Gimana, ada apa sebenernya ky? ” ( Aku yang sangat penasaran akhirnya
mencoba kepo

Risky : ” Kaya e ada yang ngikut dimotornya su gi, dia kaya tertarik dengannya…. hati – hati ajalah”

Antara percaya gak percaya akupun mencoba mempercayainya. Selang beberapa menit
risky tiba – tiba memutahkan mustika, Bentuknya seperti batu berwarna coklat dan
katanya mustika itu dihuni oleh sesosok gaib seorang perempuan. Sesosok gaib itu
mengikuti Mas Sugi sejak awal mogok. Saat itulah banyak keanehan yang terjadi.

Dengan rasa optimis kami tetap melanjutkan perjalanan meski pada akhirnya motor
mas Sugi diharuskan ditinggal dibengkel.

Pukul 12.05 setelah kami selesai makan siang dan sholat dhuhur kami memulai kembali perjalanan yang lama tertunda. Saat diperjalanan aku merasa aneh karena suasana tiba-tiba mencengkam dan membuat bulu kudukku merinding. Apalagi Risky yang berada di depan tiba – tiba berhenti, Aku pun terkejut karena saat itu aku dan Aldi diurutan no dua.

” Ada apa ky kok tiba tiba berhenti”

” Kalian dengar suara cewek nangis gak”

Kami kompak menjawab tidak karena memang saat itu suasana sedang aneh tapi Risky
tetap ngeyel bahwa dia mendengar suara cewek nangis. Selang beberapa menit kami
dikagetkan oleh Rita yang tiba – tiba teriak dan mengatakan bahwa tadi dia melihat
cewek memakai baju putih sedang berdiri dibawah pohon sengon dan menatapnya
dengan tajam. Rasa cemas dan waswas pun mulai memenuhi pikiranku tapi aku harus
tetap tenang dan mencoba menyakinkan Rita bahwa semua akan baik – baik saja. Entah
apa yang dilakukan Risky,dia seperti mencoba berkomunikasi dengan sesosok gaib itu
dan kemudian perjalanan kami dimulai kembali.

Tik…. tik…. tik… tik…

Hujan perlahan mulai mengguyur kami sebelum semakin deras kami memakai jas hujan
dan nekat tetap melanjutkan perjalanan meski diguyur hujan yang deras dan jalanan
yang sepi berembun, Risky menyarankan kami untuk tetap berhati – hati dan terus
berdoa.

Pukul 14.25 Sampailah kami pada pantai klayar, aneh suasana yang semula grimis, mendung dan dingin tapi dipantai ini justru malah sebaliknya, Panas dan teriknya sinar
matahari membuat seketika baju yang semula basah bisa kering seketika.

Heranpun mulai menyelimuti pikiranku, aneh dan tentu penuh misteri. Kubuang pikiran
negatif itu dan aku mulai menikmati keindahan suasana pantai klayar yang tentunya
sangat menakjubkan. Kami berfoto – foto dan membuat Vidio aesthetic. Rasa inginku
untuk berenang pun menggebu – gebu Akupun segera ganti baju dan berenang
dipinggiran pantai klayar, Kami riang gembira dan penuh canda tawa.

SELESAI

Nama: Alfina Ummul Fitriani

NIM: 1988201006

Kelas: PBI 6B UNU BLITAR

Leave a Reply

Your email address will not be published.