Pendidik Bayaran atau Pendidik Panggilan

(mengukir ribuan orang-orang hebat sebagai ujung tombak genarasi tunas bangsa)

Oleh : Muhamad Ibdaus Sobirin

Proses belajar tak henti-hentinya mengalir bagi jiwa setiap insan binaan sang pelita kegelapan, aliran ilmunya mengalir dalam tiap-tiap nadi darah tunas bangsa untuk mewujudkan asa-asaan. Melakoni peranan tersebut perlunya keprofesionalan tiap pendidik dalam segi pengajaran baik di dalam kelas mapun luar kelas. Belum tentu semua pendidik memerankan tugasnya menjadi pendidik kemanusiaan tetapi alih-alih untuk mencari pekerjaan.

Sebagian orang merefleksikan langkah hidup mereka sebagai pendidik, hanya sekian orang yang mulai awal memang punya harapan menjadi pendidik, menjadi guru, menjadi dosen dengan latar belakang keluarga, karena ketertarikan dan mengagumi mendalam terhadap kehidupan guru-guru mereka saat berada di bangku sekolah. Akan tetapi, sebagian presentase dari para pendidik yang menorehkan hasil refleksinya, pada mulanya mereka sama sekali tidak terpikirkan atau harapan menjadi pendidik. Namun, mereka tetap konsisten dengan harapan ingin untuk memilih langkah hidup sebagai pendidik. Dengan bimbingan dan pencerahan Tuhan serta tuntunan bisikan hati mereka pada akhirnya memutuskan untuk menjadi pendidik.

Pendidikan merupakan perbuatan fundamental yang meningkatkan kualitas hidup manusia. Isi Pendidikan adalah pemanusiaan manusia muda melalui proses hominisasi dan humanisasi. Hominisasi adalah upaya untuk menjadikan seseorang tahu dan mau bertindak sebagai manusia. Humanisasi adalah upaya untuk membentuk seluruh sikap dan tindakan seseorang menjadi semakin manusiawi.

Profesi pendidik adalah panggilan mulia untuk menjadi guru kemanusiaan sehingga memliki kompetensi tinggi di bidng ilmunya dan karakter luhur dalam dirinya. Di situlah seorang pendidik akan siap menjai guru, yaitu pribadi yang digugu dan ditiru (dalam upaya memanusiakan manusia) baik oleh peserta didik, maupun rekan kerja. Pemahaman seorang pendidik pada peranan dan tanggung jawabnya bisa jadi berbeda-beda. Yang satu memahami posisi pendidik sebagai pekerjaan, yang lain melihat sebagai profesi, tetapi ada juga yang menghayatinya sebagai sebuah panggilan.

Memang tidak salah ketika seseorang memahami posisi pendidik sebagai pekerjaan, karena dari posisi tersebut ia memperoleh penghasilan untuk penghidupannya. Bagi yang menghayati sebagai profesi, ia akan melaksanakan tugasnya secara professional, artinya ada pengetahuan, keterampilan, sikap, perilaku, dan norma-norma moral tertentu yang harus ditaati, sesuai dengan tanggung jawabnya sebagai pendidik. Ketika seseorang bertanya ke dalam dirinya mengapa ia menjadi pendidik, ternyata ia semakin menyadari bahwa peran dan tanggung jawab yang dimilikinya sebagai pendidik merupakan sebuah panggilan hidup yang berasal dari Tuhan. Tuhanlah yang memanggilnya menjadi pendidik. Tuhanlah yang menunjukkan jalan baginya untuk menjadi pendidik.

Seharusnya pendidik bukan hanya transfer pengetahuan tetapi tranfer nilai-nilai dan mendampingi para peserta didik sehingga mereka menjadi pribadi-pribadi memiliki keunggulan akademik dan integritas pribadi yang kuat. Pada akhirnya para pendidik menyadari bahwa menjadi pendidik  adalah panggilan hidup untuk membantu kaum muda mengembangkan potensi dan karakter yang dimiliki sehingga mereka menjadi berkat bagi sesamanya dan menjadi pelaku-pelaku perubahan dalam masyarakat.

Dengan harapan pendidikan di negara kita semakin baik, tenaga pekerja pendidik seperti guru maupun dosen dapat melaksanakan tugasnya dengan baik dan benar berdasarkan panggilannya menjadi pendidik. Dalam prosesnya pendidik semakin menjunjung tinggi kesadaran dan keprofesionalitasnya saat mengajar, melatih dan mendidik. Sehingga dapat digugu dan ditiru penerus bangsa yang berkualitas.

Karya Mahasiswa PBI UNU Blitar angkatan 2019

Nama : Muhamad Ibdaus Sobirin
Kelas : 6B PBI
NIM : 1988201018
UAS : Jurnalistik

Leave a Reply

Your email address will not be published.