Rumah Berhantu: Kisah di Balik Rumah Cantik 2 lantai

Oleh: Riski Nur Aisyah

Mendengar kisah rumah berhantu memang bukan sesuatu yang luar biasa bagi kita. Banyak cerita-cerita rumah berhantu dengan versi yang bermacam-macam. Disini aku ingin bercerita tentang rumah cantik 2 lantai yang bertempat di sebuah desa di Blitar. Rumah ini ada tepat di sebelah kiri rumahku dengan jarak hanya 1 meter, aku ingin menceritakan rumah ini karena cerita horor sering terjadi di sini. Dan juga, entah kenapa semua penghuni-penghuni rumah ini (orang lo ya) tidak ada yang betah tinggal lama, seakan-akan rumah ini sangat tidak nyaman dihuni padahal rumah ini terbilang baru.

Rumah itu menghadap ketimur dan memiliki jendela nako kecil menghadap ke selatan, jendela kecil itu berukuran 40×50 yang terletak di ketinggian 2 meter yang menghadap ke jendela kamar orang tuaku. Suatu hari kami (orang tuaku, aku, dan si pemilik rumah) dikejutkan dengan jejak kaki bayi di jendela nako itu. 

“Itu benar-benar seperti jejak kaki bayi umur 1 bulan.” Kata orang tuaku

“iya buk, nggak mungkin juga ada orang iseng ngajak bayi untuk membuat jejak kaki di jendela setinngi ini” timpal si pemilik rumah.

Ada 3 jejak kaki bayi di jendela itu, 2 kaki kiri 1 kaki kanan. Jejak itu mengarah ke dalam rumah, seakan si pemilik jejak kaki ingin masuk melalui celah jendela sempit itu. Karena kami ragu dan mengira itu hanya ulah orang iseng, si pemilik rumah mencoba membuat jejak kaki dengan mengepalkan tangan untuk membuah telapak kaki dan di tempelkan di sebelah jejak kaki bayi itu. Tetapi hasil tetap tidak sama persis dengan jejak kaki bayi itu, jejak kaki yang ada di jendela itu begitu terlihat nyata. Dan sepertinya mustahil jika ada orang iseng membawa bayinya di gang sempit antara rumahku dan rumah 2 lantai itu. Lagipula disekitar rumahku tidak ada bayi umur 1 bulan dan gang sempit itu ditutup pintu besi. Aku pun mulai merinding setiap kali dikamar orang tuaku dan menatap jejak kaki kecil itu.

Lanjut cerita kedua, di suatu malam si pemilik rumah kerja lembur di lantai bawah, ruang kerja itu berada mepet dengan tembok, dan disebelahnya ada gawang tanpa pintu untuk keluar masuk ruang kerja itu. Jadi posisi si pemilik rumah bekerja menghadap tembok dan disebelah kiri meja kerja ada gawang tanpa pintu itu. Saat itu pukul 23.30, si pemilik rumah yang masih bekerja setengah mengantuk melihat sosok anak kecil memakai baju kebaya melewati gawang pintu itu, sosok itu berhenti sejenak di tengah gawang pintu dan menyapa pemilik rumah dengan anggukan kecil dan tersenyum. Si pemilik rumah yang setengah mengantuk membalas anggukan itu dan tersenyum. 

“nggeh, Monggo”. Balas si pemilik rumah yang tanpa sadar dan setengah mengantuk itu dengan anggukan kecil dan tersenyum. 

Lalu si anak kecil berkebaya itu berjalan dan menuju ke kamar mandi. Setelah anak itu menghilang barulah si pemilik rumah sadar dan kaget setengah urip, berlarilah si pemilik rumah menuju ke kamar mandi dan mengecek anak siapa yang ada di dalam rumahnya malam-malam. Betapa mengejutkan karena si anak tidak ada di dalam kamar mandi, dia menghilang, kamar mandi itu KOSONG.

Tidak hanya itu, si pemilik rumah juga pernah melihat sosok anak kecil berambut panjang (bukan si anak berkebaya) sedang mengambil uang di laci rumahnya. Tidak hanya si pemilik rumah yang di diperlihati sosok-sosok penunggu rumah, keluargaku juga pernah merasakan kejanggalan, bukan diperlihati sosok tapi hanya bau, ayahku pernah mencium bau rokok di gang antara rumahku dan rumah lantai 2 itu, padahal keluargaku tidak ada yang merokok dan rumah itu dulu masih kosong. Tak hanya itu, tetanggaku juga pernah melihat penampakan poci eh pocong metungul di balkon lantai 2, poci itu berdiri diam menatap ke jalan. 

Beberapa bulan setelah kejadian-kejadian janggal dan tidak menyenangkan itu, si pemilik rumah meminta bantuan “orang pintar” untuk membersihkan rumahnya dari si makhluk-makhluk itu. Malam itu ada banyak ritual yang dilakukan orang pintar dan si pemilik rumah dari mulai membaca doa, menabur garam, dll. Puncak ritual adalah memasukkan di makhluk-makhluk itu ke dalam kendi kecil, kemudian orang pintar itu menutup kendi rapat-rapat dan menaruh kendi itu di bangku belakang mobil si pemilik rumah. Lalu si pemilik rumah dan orang pintar itu membawa kendi itu untuk di larungkan di sungai besar di daerahku. Dan yang mengejutkannya lagi, mobil yang hanya dikendarai oleh 2 orang dan satu kendi itu berasa di isi dengan 20 orang lebih, si pemilik rumah merasa berat saat membawa mobil, dan selama perjalanan mobil itu goyang-goyang tak stabil.

Sejak ritual itu, sudah tidak ada hal-hal mistis yang ada di rumah 2 lantai itu, hanya saja ada satu penghuni yang menolak untuk masuk ke kendi karena dia sudah sangat lama tinggal di rumah itu, si pemilik rumah dan orang pintar menyetujui karena memang makhluk itu tidak pernah mengganggu si pemilik rumah.

Karya Mahasiswa PBI UNU Blitar angkatan 2019

Nama : Riski Nur Aisyah
Kelas : 6B PBI
NIM : 1988201024
UAS : Jurnalistik

Leave a Reply

Your email address will not be published.